Tips dan Trik Menjadi Profesi Juru Las, Jawaban Soal TVRI SMA/SMK Rabu, 5 Agustus 2020



Berikut jawaban soal tips dan trik menjadi profesi juru las, TVRISMA/SMK Rabu, 5 Agustus 2020 . Pada Rabu ini,pembelajaran untuksiswa SMA/SMK akanmulai 10.05hingga10.30 WIB dengan materi Vokasi Kini: Juru Las yang Naik Kelas. Profesi juru las ini sangat menjanjikan dan luas pekerjaannya.

Bagi generasi milenial bahkan generasi Z yang tertarik dengan profesi juru las ini, mari mulai mempersiapkan diri dan cari tahu informasi tentang profesi juru las. Dari tayangan hari ini, siswa dapat mengembangkan kemampuan mengenali akurasi informasi dalam paparan lisan, menjelaskan kembali, dan menganalisis. Selain itu, siswa juga dapat menyampaikan pendapat dalam diskusi menggunakan pengetahuan dan data yang diperoleh dari informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Setelah menyaksikan tayangan secara seksama, siswa akan diberikan beberapa soal pada akhir segmen. Apabila mengalami kesulitan, siswa dapat berdiskusi dengan orang tua atau guru. Kompetensi apakah yang harus dimiliki juru las (welder)?

Jawaban: Untuk menjadi welder/juru las, seseorang harus memiliki badan harus sehat dan tidak boleh gemetar atau tremor. Bisa melakukan pekerjaan teknik secara individu maupun kerja sama tim.

Bisa mempergunakan peralatan las listrik dengan benar. Selanjutnya, diharapkan bisa menerapkan prinsip prinsip kesehatan dan keselamatan kerja. Mengikuti uji sertifikasi.

Bagaimanakah tips dan trik menjadi profesi juru las? Jawaban: Pertama harus senang kepada bidang yang ingin diambil.

Kemudian dibarengi dengan niat yang kuat. Mengasah kemampuan melalui pusat pelatihan atau lembaga yang disediakan oleh pemerintah. Ada berbagai jalur yang bisa dipelajari sehingga bisa menjadi seorang juru las.

Mengapa profesi juru las tidak perlu khawatir dengan kemajuan teknologi? Jawaban: Teknologi yang semakin canggih memungkinkan untuk seorang welder bisa bekerja lebih baik lagi.

Apalagi didukung dengan teknologi yang modern. Mickey Mouse Clubhouse: Bola Pluto Sahabat Pelangi: Mari Menabung

Uang dan Kegiatan Jual Beli Cinta Budaya: Seseorang yang Menjual Dunianya Lesson 8: Are you busy? (Apakah kamu sibuk?)

Vokasi Kini: Juru Las yang Naik Kelas Tahap Perkembangan Anak: 0 6 Tahun Film: Laura dan Marsha

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Regulasi, Chatarina Muliana Girsang menyampaikan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid 19 untuk memperkuat Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid 19). “Saat ini layanan pembelajaran masih mengikuti SE Mendikbud nomor 4 tahun 2020 yang diperkuat dengan SE Sesjen nomor 15 tahun 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan BDR selama darurat Covid 19,” disampaikan Chatarina pada Bincang Sore secara daring, di Jakarta, pada Kamis (28/05/2020). Dalam surat edaran ini disebutkan bahwa tujuan dari pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid 19, melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk Covid 19, mencegah penyebaran dan penularan Covid 19 di satuan pendidikan dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua.

Chatarina mengingatkan bahwa, kegiatan BDR dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum serta difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi Covid 19. “Materi pembelajaran bersifat inklusif sesuai dengan usia dan jenjang pendidikan, konteks budaya, karakter dan jenis kekhususan peserta didik,” katanya. Chatarina menambahkan aktivitas dan penugasan BDR dapat bervariasi antar daerah, satuan pendidikan dan peserta didik sesuai minat dan kondisi masing masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses terhadap fasilitas BDR.

“Hasil belajar peserta didik selama BDR diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif, serta mengedapankan pola interaksi dan komunikasi yang positif antara guru dengan orang tua,” terangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *