Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Anetta Komarudin merespon positif pelantikan Presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden bersama Wakil Presiden Kamala Harris beberapa waktu lalu. Dia menilai kinerja keduanya akan memberi dorongan positif terhadap stabilitas perekonomian global dan domestik yang masih tertekan akibat pandemi Covid-19.

“Komitmen Biden untuk dengan serius menangani ekskalasi pandemi Covid-19 di AS diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan dunia usaha agar segera bangkit. Termasuk, arah kebijakan ekonomi global dan rencana stimulus fiskal AS. Upaya ini diharapkan dapat menstabilkan pasar global yang tentunya dapat turut mempengaruhi kinerja ekonomi Indonesia,” ungkap Puteri di Jakarta, Minggu (24/1).

Pasca pelantikan, Presiden Joe Biden telah menandatangani serangkaian kebijakan penanganan pandemi yang mencakup percepatan vaksinasi Covid-19 maupun tambahan bantuan sosial. Serta, rencana paket stimulus fiskal senilai USD 1,9 triliun yang masih perlu mendapat persetujuan dari Kongres AS.

Kebijakan tersebut dianggap dapat membawa sentimen positif bagi investor AS untuk meningkatkan aliran investasi ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. “Indonesia perlu segera menangkap peluang ini dengan memperkuat kerja sama di beberapa sektor strategis,” imbuhnya.

Dia mencontohkan beberapa yang bisa jadi peluang kerjasama yakni terkait investasi bidang energi terbarukan dan ekonomi digital. Kedua hal tersebut sejalan dengan fokus pemerintahan Presiden Jokowi. Apalagi hal tersebut juga telah didukung dengan komitmen dalam penataan regulasi dan kelembagaan melalui UU Cipta Kerja dan pembentukan Lembaga Pengelola Investasi.

“Kami yakin hal ini dapat menjadi instrumen penting dalam upaya memulihkan perekonomian Indonesia dan memperkuat hubungan bilateral dengan pemerintah AS,” ujar Wakil Sekretaris Fraksi Partai Golkar ini.

Puteri menekankan pentingnya menjaga hubungan diplomatik di bidang ekonomi yang harmonis antara Indonesia dan AS. Hal ini lantaran AS menjadi salah satu negara tujuan ekspor terbesar atas produk Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Desember 2020, pangsa ekspor non migas Indonesia ke AS mencapai nilai USD 1,87 miliar.

“Pelaku pasar kita sudah harus mulai jeli melihat kebutuhan pasar. Tidak hanya nilai ekspor, kita perlu pastikan kualitas dan jenis barang ekspor tersebut terjaga dan sesuai dengan permintaan dan kebutuhan,” ungkap Puteri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *